Selasa, 10 April 2012

CERITA RAKYAT KALTIM



PUTRI KELAWOT (OWA-OWA)

Suara suling membahana memecah kesunyian
Disahut kemudian suara petir menyambar

Di sebuah negeri di Kabupaten Paser. Ada seorang pemuda gagah bernama Nalau, dia tinggal bersama ibunya di pinggiran sungai. Setiap hari pekerjaan Nalau adalah berladang dan berburu. Pada suatu hari, Nalau berburu menggunakan sumpit kesayangannya. Tak beberapa lama dia berburu, dia mendengar ada suara orang bernyanyi.

Riut riang riut
Awat aku kaka Nalau
Kantem kayangku kantem
Kantem kayu daan olai

Sering suara itu terdengar di telinga. Waktu itu Nalau sedang pergi berburu menggunakan sumpit masuk ke dalam hutan. Suara-suara itu membuatnya bingung. Setelah sekian waktu dia mencari asal sumber suara, akhirnya didapatinya di dahan yang paling tinggi ada seekor owa-owa sedang bergantungan di sela-sela ranting. Kelihatan tangannya terjepit di dahan kayu yang cukup besar. Rupanya owa-owa itu kelelahan setelah berusaha melepas jepitan di tangannya yang ternyata usahanya itu sia-sia. Melihat hal tersebut, timbullah perasaan dalam hati untuk menolong owa-owa. Pelan-pelan, Nalau memanjat batang kayu itu mendekati dan menolong owa-owa yang bergantung dan terjepit tangannya itu. Ia mendekati dan memotong dahan kayu yang menjepit tangan owa-owa tadi. Akhirnya owa-owa tadi dapat dibantu oleh Nalau. Owa-owa itupun dibawa pulang oleh Nalau ke rumahnya.
            Nalau pulang ke rumah dengan tangan hampa. Hasil buruan tidak ada sama sekali selain owa-owa tadi. Sesampainya di rumah, ibunya Nalau marah-marah kepada Nalau. “Kenapa Nalau pulang tidak membawa apa-apa. Seperti pelanduk, rusa, dan burung. Kamu hanya membawa seekor owa-owa saja”. 
            Entah kenapa dalam diri Nalau timbul rasa kasihan kepada owa-owa. Nalau lalu membawa owa-owa itu ke dalam kurungan. Diberikannya minum dan makan seperti dia memelihara ayam-ayam peliharaannya.
            Beberapa hari kemudian, Nalau dan ibunya pergi ke ladang. Cukup jauh mereka berjalan ke ladang tersebut. Mereka jalan dari rumah pagi hari dan sore hari mereka baru pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, mereka kaget. Mereka melihat ada berbagai macam makanan. Nalau dan ibunya heran, bingung, sekaligus takut. Milik siapakah makanan-makanan ini? Siapakah orang yang mengantar makanan ini? Siapa juga yang membuat rumah mereka bersih?
            Dengan perasaan ragu-ragu, Nalau mencoba memberikan makanan itu sedikit-sedikit ke hewan peliharaannya. Maksudnya adalah jika hewan peliharaannya itu kemudian mati, berarti makanan itu terdapat racun di dalamnya. Pertama diberikan kepada kucing. Tetapi kucing tersebut tidak mati. Kemudian diberikan kepada anjing, tetapi anjing tersebut juga tidak mati. Kemudian diberikan ke hewan peliharaan yang lain juga tetap biasa-biasa. Maka hilanglah perasaan ragu-ragu tentang makanan itu. Akhirnya, ia mencoba makanan tersebut. Betapa nikmat dan enak makanan tersebut.
Setelah mereka memakan makanan tersebut, tidak terjadi apa-apa. Tapi masih berbagai pertanyaan dan pikiran masuk ke dalam hati Nalau. Apakah diantara tetangga ada yang mengantar makanan tersebut? Kemudian bertanyalah mereka dengan tetangga. Tetangga mereka tidak mengantar makanan dan juga tidak ada yang melihat orang mengantar makanan itu.

Dengan rasa penasaran, mulailah mereka mengatur siasat. Beberapa hari kemudian mereka berbohong dengan berpura-pura pergi ke ladang. Tapi sesungguhnya mereka hanya berada di sekitar rumah. Beberapa waktu kemudian, dari rumah Nalau terdengar suara perempuan dan suara lain yang bermacam-macam. Suara-suara itu seperti suara menumbuk padi, membuat tepung, belah kayu, menimba air, dan menyapu.
Sesudahnya itu Nalau mendekati dinding dan mencoba mengintip di sela-sela dinding. Mereka terkejut sampai kaget luar biasa. Mereka melihat seorang perempuan cantik, bagus rupanya, saat menghadap tempat penginangan. Cantiknya seperti putri raja. Jadi pada saat perempuan itu melihat daun sirih, pelan-pelan Nalau masuk ke dalam rumah dan menangkap perempuan tadi. Perempuan itu akhirnya ditangkap dan memohon-mohon untuk dilepaskan kembali. Dia menangis dan minta kepada Nalau dan ibunya agar jangan dibunuh. Nalau dan ibunya memang tidak ada rencana untuk membunuh perempuan itu. Siapa juga yang mau membunuh perempuan cantik seperti putri raja dan baik hati pula.
Perempuan  cantik itu akhirnya menjadi istri Nalau. Mereka hidup bahagia dan berkecukupan.
Entah kenapa, entah disaat Nalau kecapaian, Nalau teringat dengan suara dari owa-owa  yang dulu ditolongnya. Sambil berbaring dia meminta kepada istrinya untuk menyanyikan lagu seperti waktu mereka bertemu dahulu. Tapi istrinya berharap agar lagu tersebut jangan didengar lagi. Jika didengar lagi maka istri Nalau tersebut akan kembali ke wujud yang semula seperti yang dahulu, yaitu jadi owa-owa. Nalau tidak percaya dengan perkataan istrinya. Dia terus mendesak istrinya untuk bernyanyi. Karena didesak terus menerus akhirnya istri Nalau terpaksa menyanyikan lagu tersebut demi permintaan suaminya. Sebelum bernyanyi istrinya meminta maaf jika ada kejadian setelah dia menyanyikan lagu itu berarti tanda perpisahan antara mereka. Bernyanyilah istri Nalau …

Riut riang riut
Awat aku kaka Nalau
Kantem kayangku kantem
Kantem kayu daan olai

Belum habis istri Nalau bernyanyi lagu tadi, bulu di badan istrinya semakin merata. Setelah lagu selesai, Nalau melihat istrinya tidak cantik lagi seperti dulu. Ia menjadi tidak suka sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Tapi dengan perasaan yang sangat menyesal istrinya berkata kepada Nalau “akulah istrimu, kamu sudah melanggar sumpahmu dulu. Karena kamu sudah melanggar itu maka mau tidak mau aku harus kembali ke wujud semula. Oleh sebab itu kita berdua harus berpisah.  Jaga anak kita baik-baik. Semoga kita bisa bertemu lagi. Hanya itu pesanku kepadamu.”

Sumber : http://tamanmawarbiru.blogspot.com/2010/10/cerita-rakyat-paser-by-sudirman-matalil.html   diambil pada tanggal 1 Oktober 2011 dalam bahasa Paser dan ditransleterasikan oleh teman-teman guru dan TU serta beberapa siswa SMA Negeri 1 Longkali dengan penambahan pembaca cerita agar cerita tersebut lebih dramatisasi.




PROFIL PEMBACA CERITA
Nama                                             :       Agus Sri Purwanto, S. Pd.
Tempat Tanggal Lahir                  :       Samarinda, 24 April 1984
No telepon                                     :       081346568881
Jenis Kelamin                                 :       Laki-Laki
Alamat                                           :       Jalan Provinsi KM 64 RT 013 No 165 Kel. Long Kali, Kec. Long Kali, Paser, Kalimantan Timur
Aktivitas                                        :  1. Mengajar di sebuah sebuah SMA Negeri 1 Long Kali – Paser pelajaran Bahasa Indonesia
                                                           2. Instruktur di Kursus Komputer ”LPK ANY” Long Kali – Paser
                                                           3. Pembina Teater Pelajar ”Teater Bendera”
Keterangan                                    :       Cerita Rakyat ini dibacakan pada saat Festival Seni Kaltim Bangkit 2011 di UPT Taman Budaya gedung Ahmad Rizani Asnawie dalam Lomba Baca Cerita Rakyat Kaltim dan berhasil membawa pulang Juara Ketiga kategori Umum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar